| 21 May 10

Pantai Marunda

Susah sekali membayangkan bahwa dulu ini pantai dimana anak-anak bermain dengan bebas gembira sambil memanjat dan menjaring udang di antara pepohonan bakau. Ombak makin hari makin ganas, kata pelaut lokal. Agar tidak makin erosi, pemerintah membangun dam. Bisa jadi sebagai sarana agar kapal-kapal lebih mudah berlabuh dan industri menjadi berdenyut kembali di desa kecil ini. Bagaikan lampu, desa berkembang selalu menarik warga-warga lain sekitarnya untuk ikut mencicipi ‘kebahagian pembangunan’. Salah satunya, mendirikan rumah-rumah makan dadakan dari bambu dan kayu seadanya. Menjual produk makanan laut. Entah apa rasanya, saya tidak berani mencobanya. Bisa jadi gara-gara sok tahu kalau perut saya yang juga sok sensitif ini sudah tidak bisa lagi dimasuki ikan dari laut yang berwarna hitam akibat oli yang dibuang sembarangan dari kapal maupun warung di muara dekat pantai ini.

Related Posts:

    This post has 2 comments

  1. 13 Aug 15 - 5:21 pm - #

    Laundry is the only thing that should be serataped by color. ~Author Unknown rasis dan stereotif itu beda atau sama bang? kalau di Indonesia kan (dulu) marak kerusuhan etnis, konon karena stereotif antar etnis itu sendiri. Satu suku disebut serakah, satu suku disebut malas, suku lain egois, dan akhirnya terjadi perang’.Ngeri bang, beberapa tahun lalu di Kalimantan kerusuhan macam ini terjadi. Itu kepala manusia dianggap tidak lebih dari barang pecah belah. Ponakan saya, waktu itu 2 tahun usianya, sampai sekarang jadi rada aneh karena sungai di depan rumahnya dulu jadi tempat pembuangan puluhan mayat tanpa kepala Kalau diskriminasi, entahlah hanya saja saya kerap merasa mengalami perbedaan perlakuan berbeda ketika berhadapan dengan pejabat dari pusat, hanya karena nama saya tidak ada huruf O’nya.. ^_^ 0 Soal diskriminasi, jangankan tanpa huruf O, bahkan orang Indonesia (dari suku-suku tertentu) pun nama belakangnya tidak diakui di paspor. Contoh, jika nama kamu Manusia Super, maka akan tertulis di paspor adalah Nama: Manusia Super . Bukan Nama Depan: Manusia dan Nama belakang: Super .Hal ini tidak begitu jadi masalah buat beberapa orang. Namun dalam kasus saya, menjadi masalah yang lumayan besar. Sebab KBRI menolak memberikan informasi nama belakang saya. Sialnya hukum yang berlaku di negara tempat saya tinggal, setiap anak yang lahir harus memiliki nama belakang (umumnya ayah, karena budaya patriaki yang diwariskan Napoleon). Jadi saat ini, Novi Kirana putri saya, memakai nama belakang mamanya. Sebab KBRI, hingga saat ini pula tidka memberi saya nama belakang yang seharusnya saya miliki.Ini tidak berlaku pada WNI keturunan. Di paspor, mereka mempunyai Nama Belakang Diskriminasi masih ada, dan kita akan sama-sama membasminya

  2. 10 Oct 15 - 11:54 am - #

    You really found a way to make this whole process easier.

Post a comment